Perjuangan Si Pemanjat Tebing

Hari itu, hari yang terindah dalam hidup Ikbal. Berada di puncak gunung Jaya Wijaya dan melihat dengan mata kepalanya sendiri keindahan alam ciptaan Tuhan yang masih terbentang luas. “Subhanallah” kata-kata itu terus menerus ia ucapkan. Betapa bahagianya ia berada disana dan dalam doa kecilnya ia berharap agar alam yang sebegitu indah ini tidak musnah agar ia selalu dapat menikmati keindahannya.
Ikbal adalah sesosok pria berpawakan tinggi besar. Badannya kokoh dan tegap, tutur katanya pun sopan serta berwibawa. Ia adalah seorang pendaki gunung yang sangat hebat dan terkenal, namanya sudah tidak asing ditelinga para pendaki dan penjelajah lainnya. Pengalamannya sudah sangat banyak dan hobinya ini sudah sangat mendarah daging di tubuhnya. Dan bila ia ditanya “mengapa menyukai hobi yang membahayakan nyawa ini?” ia akan menjawab “buat saya mendaki dan menjelajah bukan hanya sekedar hobi tapi sebuah kebutuhan hidup saya, saya begitu mencintai hobi ini karna saya ingin melihat lebih dekat semua keindahan alam ciptaan Tuhan yang masih belum terpegang oleh tangan-tangan manusia. Dan karena hobi inilah saya bisa lebih dekat dengan Tuhan beserta ciptaannya.”
Semua punya kehidupan masing-masing dan Ikbal percaya inilah hidupnya yang penuh tantangan dan resiko karna semua yang ia lakukan sangat membahayakan. Dan ia berjanji dalam hatinya tidak ingin meninggalkan hobinya yang sudah ia lakukan dari ia berusia 7 tahun hingga sekarang berumur 25 tahun. Namun, takdir berkata lain walaupun sebegitu inginnya ia tetap bertahan didunianya sekarang bila Tuhan sudah tidak mengizinkannya lagi ia tidak akan bisa berdaya. Semua berawal dari sebuah kecelakaan bus yang ia tumpangi tiga bulan lalu. Kecelakaan yang menewaskan semua penumpang dan pengemudi terkecuali Ikbal, sehingga membuat Ikbal harus selalu duduk dikursi roda. Sungguh sebuah mukzizat terbesar Ikbal masih bernyawa walaupun kehilangan kaki kirinya karena terjepit kursi bus.
Trauma serta patah semangat sempat menghantuinya beberapa minggu. Yang paling membuatnya terpuruk dalam kepedihan ia tidak bisa lagi mendaki gunung atau menjelajah ketempat-tempat penjelajahan. Hidupnya serasa sirna tanpa kehidupannya yang dulu. Namun ia masih tetap bertahan. Walaupun hatinya begitu pedih dan terluka ia hanya bisa terus berdoa dalam hati agar ia masih bisa melanjutkan hidupnya yang memang masih panjang dengan segala kekurangannya saat ini.
 Dan disuatu ketika Ikbal pergi keluar untuk sekedar mencari udara segar setelah lama terpuruk dalam kepedihan. Saat diperjalanan ia melihat seorang lelaki setengah baya sedang melukis menggunakan mulutnya. Ikbal sangat terkejut melihatnya dan segera menghampiri orang itu.
“Asalammualaikum. Selamat sore ,pak!” sapa Ikbal mencoba ramah.
“Waliakumsalam, ada apa anak muda?!” Tanya bapak itu dengan heran.
“ah, tidak pak. Saya kebetulan hanya lewat kemudian melihat bapak yang sedang melukis menggunakan mulut. Saya jadi heran!”
“Oh, begitu! Kenapa mesti heran. Saya ini hobi sekali melukis, menjadi pelukis adalah cita-cita saya. Namun Tuhan berkehendak lain.”
“Kenapa pak?”
“Yah, beginilah. Saya sudah tidak memiliki tangan dan kaki lagi., jadi saya hanya bisa melukis dengan mulut saya saja.”
“Ah, maaf Pak! Saya sudah membuat bapak sedih.”
“Tidak apa-apa kok nak, saya sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Kalau boleh tahu siapa nama kamu, nak?!”
“Nama saya Ikbal, Pak!”
“Oh, Ikbal… nama saya Pak Tejo!”
“Saya lihat, lukisan bapak ini indah sekali, bapak pasti pelukis professional.”
“Ah, tidak juga. Saya hanya menyukai pekerjaan ini, yah walaupun dengan serba kekurangan. Nak Ikbal mesti percaya, Tuhan tidak akan memberikan ujian dibatas kemampuan umatnya. Dan saya juga telah mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan selama ini kepada saya.”
“Bapak, ternyata orang yang sangat tegar.”
“Saya hanya mencoba ikhlas menghadapi takdir saya, saya tahu segla yang saya miliki adalah milik Allah dan kapan saja bisa diambil seperti tangan dan kaki saya ini.”
“…” sambil meneteskan air matanya.
“Kenapa kamu nak?! Apa karena kakimu?”
“…” Ikbal tetap tidak menjawab namun hanya mengangguk.
“Sabar ya, nak! Semua ini ada hikmahnya. Ujian itu adalah hal wajar yang akan diterima manusia. Dan kita harus bisa menghadapi itu semua.”
“Terima kasih atas semua ucapan dan nasehat bapak, itu semua membuat saya sedikit sadar betapa penting arti kehidupan.”
“Nak Ikbal, jalan nak Ikbal masih panjang. Nak Ikbal harus percaya suatu saat kebahagiaan itu akan datang asal Nak ikbal tetap tawakal dan sabar menghadapi ujian.”
“Iya, pak… saya akan tetap sabar dan tidak akan berkeluh kesah atas ujian yang diberikan kepada saya.”
“…”
Setelah lama berbincang-bincang dengan Pak Tejo yang terlihat begitu semangat walau memiliki banyak kekurangan membuat hati Ikbal seraya dihujani salju yang menyejukkan hatinya. Ternyata Ikbal lebih beruntung karena hanya satu kakinya yang patah. Dan setelah lama berjalan-jalan dengan kursi rodanya, Ikbal melihat anak-anak yang sedang asyik bermain. Semuanya terlihat gembira dan riang disore itu. Dan Ikbal hanya bisa tersenyum melihat kebahagian mereka. Dan saat Ikbal ingin pergi dari tempat itu, ia melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk dibawah pohon. Ikbal begitu heran padanya karena ia tidak bermain seperti teman-temannya. Ia hanya memegang subuah buku entah buku apa yang anak itu pegang. Ikbal begitu penasaran dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ikbal segera menghampirinya.
“Asalamualaikum, adek manis?!”
“Walaikumsalam, kak. Em, kakak siapa ya? Saya kok gak pernah mendengar suaranya?!”
“Nama kakak Ikbal. Kakak tidak tinggal didaerah sini. Kakak hanya kebetulan lewat. Nama adek siapa?!”
“Nama saya Lika, kak!”
“Nama yang bagus. Dek Lika kenapa tidak bermain dengan teman-temannya?!”
“Iya, saya sedang belajar kak!”
“Wow jarang sekali anak seusia kamu diwaktu bermain saat sekarang ini belajar. Pasti kamu anak yang pintar?!”
“Ah, gak juga kok kak. Lika hanya tidak bisa bermain seperti teman-teman aja.”
“Lho, Kenapa?!”
“Lika sejak kecil tidak bisa melihat kak!”
“Apa, tidak bisa melihat!” 
Ikbal begitu kaget mendengar ucapan dari anak semanis Lika. Seperti dihantam bumerang ia mendengarnya. Ikbal benar-benar tidak menyangka gadis semanis dan seceria Lika tidak bisa melihat. Apalagi dari kecil, betapa malang nasib gadis yang masih memiliki masa depan yang panjang ini. Tak terasa air mata Ikbal kembali bertetesan. Keadaannya sekarang yang membuat mantan pemanjat tebing ini sering mengeluarkan air mata, apa lagi melihat peristiwa yang begitu menyedihkan.
“Oh iya kak, Lika sedang belajar membaca denag huruf braile lho! Kata mama Lika tidak boleh kalah sama teman-teman Lika yang lain. Lika harus pintar membaca dan menulis juga.”
“Emm, Lika kamu pintar sekali.”
Ikbal benar-benar tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Semangat dan kemauan untuk tetap bertahan begitu tertanam di hati anak sepeti Lika. Sama sekali tidak ada keluhan sama sekali. Terpancar diraut wajahnya bahwa ia begitu bahagia menjalani hidupnya saat ini. Tapi hati Ikbal masih saja terus tersayat mendengar kata-kata riang dari Lika. Ia serasa merasakan apa yang Lika rasakan, pedih, namun tetap iklas dengan apa yang telah ia peroleh.
“Oh ya, Lika gak kepengen main bareng temen-temen?!”
“Lika kepingin banget kaya temen-temen bisa bermain sesuka hati mereka. Tapi Lika gak apa kok hanya bisa mendengar canda tawa mereka. Buat Lika semua itu sudah cukup membuat Lika senang. Lagipula teman-teman Lika selalu baik pada Lika. Lika memang beruntung punya teman-teman seperti mereka.”
Fyuhh, seperti dihantam badai Ikbal mendengar perkataan Lika yang begitu menerima apa adanya. Seorang gadis cilik yang begitu tegar. Didalam hati kecilnya Ikbal berharap agar Lika selalu diberi kebahagiaan.
Saat diperjalanan pulang Ikbal tidak bisa berfikir apa-apa, semua yang ia alami sore ini yaitu bertemu dua orang yang begitu tegar hingga membuat hati Ikbal begitu bergetar membuat ia semakain dekat pada Sang Pencipta. Betapa bodohnya Ikbal karena selama ini telah menyianyiakan waktu hanya untuk menyesali nasibnya yang berubah begitu saja. Dan sekarang Ikbal percaya bahwa semua yang ia alami pasti ada hikmahnya.
 
<=====  Oleh : Cristya R d_v Nr    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s